Kampung Toleransi di Ujung Barat Nusantara

By Admin


Tugu Titik Nol Sabang

nusakini.com, Bila engkau berdiri di ujung tebing Pulau Weh, engkau akan menyadari bahwa tugu Kilometer Nol bukanlah sekadar monumen geografi. Angka nol di sana adalah rahim, sebuah titik mula dari mana gagasan persaudaraan Nusantara ini dilahirkan dan direngkuh.

Banyak orang memandang Aceh semata sebagai panggung bagi ketegasan syariat yang kaku. Namun, di Sabang, agama hadir bukan sebagai tembok pemisah, melainkan jendela yang membiarkan angin sejuk kemanusiaan keluar masuk dengan leluasa.

Air laut tak pernah memilah kapal mana yang boleh berlayar di atasnya. Begitu pula Sabang di masa lalu, pelabuhan bebas ini menyambut pedagang Tionghoa, perantau Minang, pekerja Jawa, dan Batak untuk duduk bersama saudara Suku Aceh.

Dari perjumpaan wajar di dermaga itu, terbangunlah sebuah arsitektur sosial yang indah. Sebuah kuali peleburan tempat manusia dihargai karena ketulusan hatinya, bukan dari cara ia melafalkan doa.

Susurilah jalanan pusat kotanya dengan langkah pelan untuk melihat kerukunan dalam wujud nyata. Masjid Agung, Gereja Katolik, Gereja Protestan, dan Vihara Avalokitesvara berdiri berdekatan dan bernapas dalam udara yang sama.

Masuklah ke lorong Gampong Kuta Bawah Barat, tempat teologi kerukunan dipraktikkan lewat laku hidup rakyat jelata yang bersahaja. Ketika perayaan keagamaan tiba, mereka saling berjaga dan berbagi sajian, menyadari bahwa perbedaan dogma tak lebih besar dari ikatan bertetangga.

Saat Ramadan tiba, kelembutan hati itu semakin tampak nyata tanpa perlu todongan aturan. Saudara-saudara pedagang non-Muslim secara sukarela memasang tirai warung mereka sebagai bentuk rasa tepo seliro kepada tetangganya yang berpuasa.

Sabang membuktikan bahwa penerapan syariat dapat bergandengan tangan dengan sangat mesra bersama kebebasan kaum minoritas. Para pendatang tak perlu dipaksa mengikuti aturan agama mayoritas, cukuplah membalut diri dengan pakaian kesopanan dan senyum penghargaan.

Peziarahan ke Sabang pada akhirnya adalah sebuah ziarah batin bagi kita semua. Dari titik nol ini, kita belajar mengeja kembali apa arti menjadi manusia Indonesia seutuhnya. (*)